Anda pasti bertanya-tanya mengapa saya membuat judul seperti ini. Sabar, lima menit lagi anda akan tahu jawabannya.
Sebelumnya, ijinkan saya untuk bernostalgia mengenang masa kecil saya, boleh kan ?
Anda tahu bola bekel ? Sewaktu kecil, saya senang bermain permainan bola bekel bersama teman-teman kecil, walaupun permainan ini identik dengan anak perempuan, entah mengapa saya sangat menikmatinya. Dengan sebuah bola yang sangat elastis dan beberapa biji yang terbuat dari kuningan (salah satu permainan khas Indonesia juga lho !). Bola ini seakan tak pernah lelah saat saya angkat dan memantulkannya. Semakin tinggi dan keras bola itu jatuh, semakin tinggi dan keras pula ia memantul.
Subhanallah, sekarang saya dapat memetik hikmah dari benda yang terlihat biasa saja ini. Yaitu sifat 'tahan banting' yang ada pada nya. Coba deh anda bandingkan dengan bola kristal. memang benda yang tergolong mulia ini memiliki nilai yang sudah usah ditanyakan lagi. Namun, sifatnya yang gampang pecah menyadarkan saya bahwa kemewahan membuat mental sebagian orang menjadi lemah, angkuh dan tak peduli terhadap sesama. Hal ini bertolak belakang dengan sifat bola bekel yang elastis, tahan banting dan cepat memantul (baca: bangkit). Apalagi jika ditambah dengan sifatnya yang merakyat, iya kan !
Dalam kehidupan nyata, betapa seringnya pelaku bisnis mengalami keterpurukan dalam menjalankan usahanya, bahkan sampai titik nadir terendah. Namun, itulah hukum alam. Sebagaimana Allah telah mengisyaratkan dalam Al Qur'an, bahwa nasib manusia akan silih berganti, yang hari ini berada diatas, tak menutup kemungkinan besok ada di dasar. Itulah hukum Allah. Sudah menjadi Sunnatullah apa yang sudah dan belum terjadi pada setiap diri manusia, siapa pun ia.
Jika kita sedang jatuh dalam hal apapun, jatuhlah dengan tenang dan senang, setelah itu jangan lupa untuk 'memantul' kembali sekuat dan setinggi-tingginya.
Baik buruknya sebuah peristiwa pasti memiliki banyak hikmah yang terkadang tidak kita sadar. Yang Beruntung, ialah yang mampu memetik hikmah dan pesan yang tersirat didalamnya, sudahlah, mengangguk saja.
Agus Munawar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar